Ironi Hadiah Umrah, Sa'at Patungan Pemuda Menjadi Tiket Ibadah Sang Pimpinan - gema darussalam

Breaking

gema darussalam

Bicara Apa Adanya, Berbagi Cerita dan Berita, Dari Desa Terbang Menyapa Dunia

Jumat, 27 Februari 2026

Ironi Hadiah Umrah, Sa'at Patungan Pemuda Menjadi Tiket Ibadah Sang Pimpinan

 


Malam di Lombok Timur belakangan ini tampak berbeda. Dari ujung Utara hingga pelosok Selatan, jalanan desa bersolek dengan kerlip lampu hias dan lampion warna-warni yang memanjakan mata. 

Bupati baru saja mengumumkan sayembara, satu desa terbaik di wilayah Utara dan satu di Selatan akan dinobatkan sebagai pemenang. Hadiahnya tidak main-main—sebuah tiket ibadah Umrah.


Semangat Akar Rumput yang Menyala

Mendengar kabar itu, bara semangat para pemuda langsung tersulut. Tanpa menunggu komando apalagi kucuran dana dari kantor desa, mereka bergerak. Di bawah temaram lampu pos ronda, para pemuda ini "melepeh" kantong sendiri. Ada yang menyisihkan uang rokok, ada yang merelakan upah buruh hariannya, bahkan ada yang entah bagaimana caranya memutar otak agar rupiah terkumpul demi kabel, bohlam, dan kertas minyak.


Gotong royong ini murni. Mereka memanjat bambu hingga larut malam, merangkai kabel di sela rintik hujan, semua demi satu ambisi, menjadikan desa mereka yang paling terang.


Namun, di balik keindahan instalasi cahaya itu, terselip sebuah realitas yang getir. Masyarakat dan pemuda adalah mesin penggeraknya, mereka adalah donaturnya, dan mereka pula kuli kasarnya. Namun, regulasi lomba berkata lain.


Jika nanti dewan juri memutuskan desa mereka sebagai yang terbaik, sang Kepala Desa lah yang akan melangkah ke tanah suci. "Kami yang patungan, kami yang begadang sampai subuh, tapi Pak Desa yang berangkat ibadah umroh."


Kalimat itu berbisik di antara tawa para pemuda saat mereka melilitkan kabel. Sebuah anomali yang dianggap wajar dalam sistem birokrasi kita, rakyat yang berkeringat, pimpinan yang mendapat berkat.


Situasi ini menjadi potret nyata betapa tulusnya masyarakat kita, sekaligus betapa "nyamannya" kursi jabatan. Cahaya lampion itu memang terang benderang menerangi aspal desa, namun ia gagal menerangi ketidakadilan distribusi apresiasi. Pemuda bangga karyanya diakui, namun mereka hanya bisa menatap keberangkatan sang pemimpin dari balik layar ponsel, sembari kembali patungan untuk sekadar membeli kopi di malam berikutnya.


Sebuah kompetisi yang memenangkan estetika, namun menyisakan tanya tentang logika sebuah penghargaan.


Situasi ini memang ironis, namun sangat kuat untuk dijadikan bahan kritik sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar