Ironi di Balik Menara, Redupnya Cahaya Masjid - gema darussalam

Breaking

gema darussalam

Bicara Apa Adanya, Berbagi Cerita dan Berita, Dari Desa Terbang Menyapa Dunia

Selasa, 06 Januari 2026

Ironi di Balik Menara, Redupnya Cahaya Masjid

 


Masjid desa itu dulunya adalah pusat energi. Namun kini, yang tersisa hanyalah bangunan megah dengan aktivitas yang kian mendingin. Remaja Masjid yang seharusnya menjadi jantung pergerakan, kini seolah kehilangan denyut.

Kepengurusan yang terbentuk pasca pemilihan lalu ternyata hanya berakhir menjadi deretan nama di atas kertas—sebuah struktur tanpa infrastruktur gerakan, sebuah eksistensi tanpa esensi.


Banyak masyarakat yang menaruh harapan besar pada proses pemilihan pengurus sekarang, tidak seperti sebelumnya ramai dengan hal-hal kebaikan. Kini, harapan itu pupus. Bukannya membawa pembaharuan, yang terjadi justru kemunduran yang nyata,

Kegiatan pra-PHBI yang dulunya semarak kini senyap. Salah satu pilar pendidikan karakter remaja yang kini entah ke mana rimbanya,  TPQ seperti hilang arah. Keramaian yang biasanya diisi oleh diskusi dan kreativitas anak muda kini digantikan oleh kesunyian yang mencekam.


Keprihatinan ini semakin dalam ketika melihat sikap para pemangku kebijakan. Pemimpin desa terkesan tidak mau tahu, seolah menutup mata dari keroposnya organisasi pemuda di desanya sendiri. Pun demikian dengan pengurus masjid yang seharusnya menjadi orang tua sekaligus pembimbing, seakan membiarkan kondisi ini berlarut-larut tanpa intervensi yang berarti.


Fenomena yang paling menyakitkan adalah bagaimana segelintir orang mampu mengalahkan suara masyarakat banyak. Hanya karena faktor keberanian bicara—yang sayangnya tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran—mereka mendominasi arah kebijakan masjid.

Hal ini menyebabkan mayoritas masyarakat memilih untuk diam. Namun, diamnya warga   bukanlah tanda setuju, bukan pula tanda mengalah.


"Masyarakat memilih diam karena tidak ingin terjadi keributan dan perpecahan, namun di dalam diam itu tersimpan kekecewaan mendalam atas hilangnya marwah kegiatan di Masjid itu"


Jika kondisi ini terus dibiarkan, masjid itu akan kehilangan generasinya. Sudah saatnya ada keberanian baru untuk menyuarakan perubahan, agar masjid kita kembali menjadi rumah bagi gagasan dan gerakan anak muda. Masa bakti telah berakhir, yuk kita memilih yang baru, tidak usah berdiam diri untuk cahaya terang dimasa depan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar